PLOT
Kay and Cream first meet each other in high school & both are orphans; Kay was abandoned by his parents who nevertheless left him a sizable sum of money, while Cream lost her entire family in a traffic accident. The two become soulmates and come to share a home, though Kay watches Cream switch from boyfriend to boyfriend as he keeps his own feelings for her to himself. Knowing that Cream's biggest fear is to be left alone, Kay keeps the fact that he has terminal cancer as a secret, and instead he urges her to marry a kind and healthy man. When Cream announces that she is in love with affluent doctor Joo-hwan, Kay is left heartbroken, but is satisfied that she has met her ideal partner. The audience later learns that Cream accidentally learns about Kay's illness while entering the hospital room where Kay was at due to his fainting. It was shown earlier in the movie that Cream has asked Kay what his wish was; Cream finding a good and healthy man to spend her life with was what Kay wished for. Wanting to fulfill Kay's wish, Cream fakes falling in love with Joo-hwan. This part of the movie is shown at the end from Cream's perspective. Believing Cream has really found someone she loves, Kay asked Joo-hwan's fiance to break up with him. Joo-hwan's fiance agrees under the condition that Kay lets her take photographs of him. The night before Joo-hwan and Cream's wedding, Kay found the courage to tell Cream that he loves her while Cream replies "me, too." In the end, Cream believe that they are married because they walked down the aisle together when Kay is handing Cream off to Joo-hwan at their wedding." - source: http://en.m.wikipedia.org/wiki/More_Than_Blue?wasRedirected=true
This movie is tragically sweet. Saya selalu percaya ketika cinta kita kepada sesuatu/ seseorang telah berada pada suatu level ketulusan tertentu, pengorbanan yang kita lakukan nilainya jauh lebih kecil dari kebahagiaan kita ketika kita tahu sesuatu/ seseorang yang kita cintai bahagia. Sepanjang film tokoh Kay menyentuh hati saya, tangis saya tidak lagi hanya sekedar tetes air mata namun tokoh Kay sukses membuat saya sesenggukan hampir di sepanjang film tersebut. Bahkan setelah tokoh Kay meninggalpun, film ini masih mampu membuat saya terkejut.
Kay berpikir bahwa sebelum ia meninggal, ia harus menyerahkan Creame kepada lelaki yang baik karena ia tidak ingin meninggalkan Creame sendiri. Creame berpikir bahwa ia harus mewujudkan impian terakhir Kay, melihat ia menikah dengan lelaki yang baik. Yang membuat penonton terkejut di akhir cerita adalah selama ini Kay mengira bahwa Creame tidak mengetahui penyakitnya, padahal Creame mengetahuinya. Tapi Creame pura-pura tidak tahu sambil ia terus memperhatikan Kay tanpa sepengetahuan Kay.
Dari Kay dan Creame saya belajar tentang perasaan cinta. Mungkin dulu, apabila saya menjadi Kay saya akan memberitahu Creame akan penyakit saya, mengatakan bahwa saya mencintainya, dan hidup saya tidak lama lagi, meskipun saya tahu hal tersebut akan membuat Creame sedih nantinya. Mungkin dulu, apabila saya menjadi Creame saya akan segera memberitahukan Kay bahwa saya mengetahui penyakitnya, saya bersedih, saya akan marah, dan hal tersebut akan membuat Kay sedih. Tapi sekarang, saya mengerti, mengapa kedua tokoh tersebut tidak melakukan hal demikian. Kay dengan sepenuh hati ingin melihat Creame bahagia, dan kediaman Creame menunjukkan pengertiannya terhadap Kay.
Tokoh yang tidak kalah menariknya adalah tokoh Joo-Hwan. Tokoh yang memiliki tipikal "Second Man" di serial/ film Korea. Dia digambarkan sebagai sosok dokter yang baik hati dan ingin membahagiakan Creame. Di akhir cerita kita akan tahu bahwa Joo-Hwan sedari awal sebenarnya tahu bahwa Creame tidak sepenuhnya mencintai dirinya dan hanya menggunakannya sebagai "alat" untuk membahagiakan Kay.
Yeah, but that's love. Seperti yang telah saya ungkapkan di atas, akhir dari cerita ini memang tragis, tanpa memikirkan perasaan Joo-Hwan, Creame ternyata memang telah berencana menyusul Kay menuju kematian meninggalkan Joo-Hwan sendiri. Meskipun demikian ada bagian dari saya yang merasa kisah cinta mereka manis, karena mereka mencintai dengan ketulusan, tanpa paksaan, tanpa ke/(peng)harusan.
Warmest regards,
Safyra Primadhyta
P.S: Terkadang saya sering over simpati terhadap "Second Man/ Girl". Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin saja keeksistensian mereka dengan peranan mereka sekarang adalah cara Tuhan untuk membawa mereka ke kebahagiaan yang sesungguhnya di masa mendatang. Tuhan mengajarkan mereka cara mencintai, sebelum Tuhan mempertemukan mereka dengan orang mereka cintai dan yang mencintai mereka. Hanya terkadang manusia egois, ingin segala keinginannya dikabulkan sekarang, dan menutup kemungkinan adanya kebahagiaan yang lebih di masa mendatang. Pada akhirnya segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sekarang adalah suatu pembelajaran untuk kehidupan di mana mendatang apabila kita bersedia melihatnya demikian.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
0 komentar:
Poskan Komentar